Sabtu, 13 Desember 2014

Kata - Kata Motivasi

Jadikanlah apa yang diraih orang lain sebagai motivasi untuk anda. Yakinlah anda juga pasti bisa, dan tetaplah bersyukur dengan apa yang telah anda miliki saat ini.
Jika anda mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah semua itu dengan sepenuh hati. Jika anda bekerja seadanya, maka hasil yang akan anda dapatkan pun akan seadanya.
Jujur adalah sifat mutlak yang ada pada setiap manusia. Dengan kejujuran akan menuntun manusia pada pintu kebahagiaan yang hakiki. Oleh karena itu seseorang yang tidak pernah jujur dalam hidupnya selalu dipenuhi dengan bayang-bayang kesalahan yang tlah dia dilakukan.
Bekerja keras tanpa ilmu sama saja kosong, Punya ilmu tapi tidak bisa menggunakannya itu juga sama saja bohong, Tidak punya ilmu dan tidak mau bekerja, maka jangan pernah bermimpi untuk sukses!!
Seseorang yang telah mempunyai tujuan yang pasti dan bisa membangun kehidupan secara matang, maka  orang itu adalah orang yang bisa berfikir serta berjiwa dan berkarakter yang jelas dan pasti.
Sekecil apapun nilai kesuksesan itu, jika anda bisa menikmati dan merasakannya pasti akan membuahkan kebahagiaan dan kepuasan, itulah arti sebenarnya dari Kesuksesan selama ini.
Tiada gunanya mencari materi kalau kepuasan hidup akan tersingkirkan?? Ukuran orang meraih Sukses itu adalah merasakan bahagia, kepuasan jiwa serta kedamaian hati.
Sukses itu di awali dari saat kita menjaga pikiran agar tetap tertuju pada hasil yang kita inginkan, bukan pada kekurangan yang telah kita miliki.
Allah sudah menyebarkan benih kesuksesan, dalam tempat dan waktu yang tepat ketika suatu saat kita akan membutuhkan, kesuksesan hidup dalam diri kita menunggu untuk Bersemi, Tumbuh dan Berbunga.
Mulailah untuk Bermimpi, Berencana, Belajar dan Bekerja untuk apa yang anda inginkan hari ini. Potensi anda akan membuat ruang bagi pencapaian mimpi-mimpi anda, dan kesuksesan anda akan membawa nilai dan kesenagan bagi diri anda dan semua orang yang ada disekitar Anda.
Mimpikanlah sesuatu dan jadikanlah mimpimu itu kenyataan, karena sebenarnya tak akan ada dunia ini jika tak ada yang bermimpi dan semua berawal dari mimpi.
Jika kamu gagal mendapatkan sesuatu, hanya satu hal yang harus kamu lakukan, coba lagi!

Senin, 30 Desember 2013

Cerita Burung Beo Yang Bersyahadat

Al-Kisah, dahulu terdapat seorang syaikh yang selalu mengajarkan murid-muridnya permasalahan aqidah. Beliau seringkali mengajarkan pada mereka kalimat “laa ilaaha illallah”. Beliau pun berusaha menjelaskan dan menanamkannya pada mereka, dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tatkala syaikh sedang mengajarkan pada mereka kalimat “laa ilaaha illallah” dan menanamkannya dalam jiwa mereka, salah seorang murid memberikan hadiah kepada syaikh seekor burung beo, karena beliau memang suka memelihara burung dan kucing.
Dengan berjalannya waktu, syaikh menyukai burung beo tersebut dan selalu membawanya bersama beliau di setiap pelajarannya. Hingga burung beo itu dapat menirukan kalimat “laa ilaaha illallah”. Sang burung pun selalu mengucapkan kalimat tersebut siang dan malam.

Suatu ketika murid-murid melihat syaikh sedang menangis terisak-isak. Mereka pun bertanya kepada beliau, "apa yang membuatmu menangis wahai syaikh?". Beliau menceritakan bahwa kucingnya telah memangsa beo tersebut. Mereka berkata: “apakah karena burung itu, engkau menangis? Jika engkau mau, kami bisa memberikan padamu burung beo yang lain, bahkan burung yang lebih baik dari burung beo itu.”

Syaikh pun menolaknya, lalu mengatakan kepada mereka: ”bukan ini yang membuatku menangis, yang membuatku menangis adalah ketika si beo diserang oleh kucing, si beo hanya berteriak-teriak sampai mati. Padahal si beo sebelumnya banyak mengucapkan kalimat “laa ilaaha illallah”. Namun saat si beo diserang oleh kucing, ia lupa mengucapkan “laa ilaaha illallah”. Beo hanya berteriak-teriak, karena sebelumnya ia hanya mengucapkan kalimat ini dengan lisannya, sementara hatinya tidak mengilmuinya, tidak pula menghayatinya.”

Selanjutnya syaikh berkata: “aku khawatir jika keadaan kita seperti burung beo ini. Sepanjang hidup, kita selalu mengulang-ulang kalimat “laa ilaaha illallah”, namun ketika kematian mendekati kita, kita lupa, karena hati kita tidak menghayati, tidak pula memahaminya.”

Maka murid-muridnya pun ikut menangis karena khawatir tidak memiliki keikhlasan dan kejujuran dalam mengucapkan kalimat “laa ilaaha illallah” dalam hatinya.

Demikian pula dengan kita -wahai para pembaca- apakah hati kita telah memahami, meresapi, dan menghayati “laa ilaaha illallah”?

Yang Di Sampaikan Imam sebelum takbir ketika hendak meluruskan shaf


Dalam hadits ini Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam mengucapkan bacaan seperti ini, bukan untuk mewajibkan agar ucapan beliau ini ditiru ketika meluruskan shaf. Namun tujuannya adalah memerintahkan para sahabatnya meluruskan shaf.
Karena itu beliau shallallâhu 'alaihi wasallam mengungkapkannya dalam banyak ungkapan yang intinya perintah meluruskan shaf. Diantara yang beliau ucapkan selain lafazh di atas adalah :
أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ
Luruskan shaf, ratakan bahu-bahu kalian, tutupi celah dan bersikap lunaklah terhadap tangan tangan saudara kalian (mudah diatur untuk meluruskan dan merapatkan shaf).
(HR Abu Daud dan dishahihkan oleh al-Albâni rahimahullâh dalam Shahîh Abu Daud, no. 620)
سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ
Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat.
(HR Muslim)
اسْتَوُوا وَعَدِّلُوا صُفُوفَكُمْ
Luruskan dan ratakan shaf-shaf kalian
(HR Abu Daud)
اعْتَدِلُوا سَوُّوا صُفُوفَكُمْ
Ratakan dan luruskan shaf-shaf kalian
(HR Abu Daud)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa seorang imam diperintahkan meluruskan shaf makmum baik dengan perbuatan anggota tubuh atau dengan perkataan yang dapat dipahami makmum sehingga mereka dapat meluruskan shafnya, misalnya : “Luruskan shaf kalian!”
Seorang imam tidak cukup hanya dengan mengucapkan “Luruskan shaf kalian!” lalu memulai shalat. Dia harus memastikan shaf makmumnya sudah lurus dan rapat, baru memulai shalat. Sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab radhiyallâhu'anhu yang menyuruh seseorang untuk meluruskan shaf makmum. ‘Umar tidak akan memulai shalat sampai orang yang diberi tugas meluruskan shaf memberitahukan bahwa shaf telah lurus. Begitu juga ‘Utsmân bin ‘Affân radhiyallâhu'anhu dan ‘Ali bin Abu Thâlib radhiyallâhu'anhu selalu menjaga sunnah ini.[2]

This is my new blog

This is my New Blog.
hope you like to visit my blog and liked this